Jumat, 22 Februari 2013

Farhat Abbas

*di salah satu episode Hitam Putih Trans7  yang sedang membahas peristiwa banjir Jakarta bulan lalu* *sebuah potongan percakapan antara host dan bintang tamu dalam sebuah segmen*

Deddy Corbuzier (D) : Kalau diliat, mengapa Anda berani sekali mengatakan bahwa Jokowi dan Ahok tidak bisa mengurusi Jakarta banjir? Saya berada di tengah mengatakan bahwa 'kan mereka baru gitu jadi gubernur, kenapa yang disalahkan mereka? Gimana Anda menjawab itu?
Farhat Abbas (F) : Ya, kalau kita melihat yah kenapa mereka terpilih yah harapan masyarakat adalah apabila mereka terpilih bisa mengatasi banjir dan, euh macet Jakarta. Nah mereka dengan superhero mengatakan bahwa 'Siap!' katanya gitu..
D : Oke kalau misalnya Anda menjadi gubernur Jakarta, anggap saja. Anda mau ngapain coba?
F : Jadi kalau saya sebagai Gubernur yah, pertama yang saya inginkan ini kan menyangkut tata cara pemerintah, kerja pemerintah, kinerja.. euh karena menyangkut anggaran yang rakyat yang banyak dikorupsi oleh orang. Menurut saya ini sudah tidak bersahabat lagi dengan alam, sehingga bukan antara berantem antara koruptor dengan negara atau negara dengan rakyat, tapi alam sudah masuk ke sini. Jadi yang diutamakan adalah bagaimana bekerja dengan baik, tidak korupsi sehingga alam merasa bersahabat, tidak dirusak lingkungannya, tidak sembarang membangun mall dan ketika air datang dari Bogor harus tertampung dan tidak ke laut. Seperti itu kira-kira.

====================================================

Gue juga nonton episode ini, tapi karena waktu itu nontonnya di tivi, jadinya nggak bisa di-pause-atau-rewind. Terus pas lagi liat-liat hitam putih di web-nya trans, jadi pengen buka lagi. Dan gue bukalah si link-nya itu. Di menit 20-an (lupa pastinya menit keberapa), Deddy Corbuzier mengeluarkan pertanyaan kayak yang disebutin di atas itu, dan kemudian terjadilah percakapan di atas.

Ada beberapa komentar yang mau gua berikan terhadap jawaban-jawaban dari Farhat Abbas
1. Farhat Abbas kemampuan menalarnya kayaknya kurang deh, kenapa? Karena Deddy bertanya kenapa dia berani bilang kalau Jokowi-Ahok nggak bisa beresin masalah Jakarta, dijawab karena waktu Jokowi-Ahok terpilih ada harapan masyarakat dan Jokowi-Ahok sudah bilang siap. Yang ditanya sama Deddy itu kan kenapa dia bisa berkata kayak begitu, seharusnya dia menjawab "karena saya merasa..." "karena saya melihat..." dll. Logikanya, harusnya waktu ditanya kenapa Anda berkata demikian itu, dia harusnya bisa menjawab dengan sudut pandang orang pertama atau dirinya sendiri, karena memang yang jadi subjek pertanyaan adalah dirinya sendiri. Ini dia malah jawab karena ada harapan masyarakat. Aneh. Padahal Deddy udah kasih clue loh waktu dia bilang "mereka kan masih baru". Kalau dia cerdas, harusnya dia tau kalau jawaban yang diharapkan sama Deddy adalah yang berhubungan dengan ke-"baru"-an Jokowi-Ahok.

2. Farhat Abbas seriusan mau jadi presiden itu dengan tata bahasa yang ancur-ancuran kayak begitu? Orang ditanya apa jawabnya kenapa. Ditanya mau ngapain, jawabnya nggak nyambung udah gitu nggak jelas lagi. Ditanya mau ngapain kalau jadi gubernur jawabannya nyambung-nyambung ke alam. Apa hubungannya duit rakyat yang dikorupsi sama alam yang dirugikan? -_- Kalau mau Jakartanya nggak banjir lagi dan alamnya nggak marah, bukan itu dong yang harus dilakuin, tapi bikin peraturan yang bisa menimbulkan efek jera pada masyarakatnya sehingga buang sampaj ke kali nggak diulang lagi. Kalau gue sih nih misalnya, rekrut orang-orang semacam "polisi air" yang kerjanya ngawasin masyarakat di bantaran kali dengan punya pos di sekitar pinggiran kali dan ngawasin kali dengan patroli pake perahu di kali. Fungsinya "polisi air" ini adalah untuk memberikan hukuman pada masyarakat yang buang sampah sembarangan ke kali dengan cara denda. Dendanya yang masuk akal aja, misalnya setiap kali buang sampah besar atau kecil harus membayar 10 ribu rupiah. Kenapa uangnya kecil? Supaya masyarakatnya nggak ngerasa kalau penarikan denda sebanyak itu mustahil dan mereka akan segan membuang sampah sembarangan. Kalau didendanya banyak-banyak, orang bakal mikir kalau itu mustahil ditegakkan jadinya nggak usah juga ditaati. Lihat aja tuh peraturan merokok di tempat umum, kalau gue nggak salah itu dendanya 500 ribu rupiah. Yang bener aja, siapa juga bakal mikir mustahil kali ditegakkan. Yah begitula kira-kira intinya (malah melenceng ke yang lain-lain segala lagi gue..) Dari duit yang dikorupsi tiba-tiba dia bilang ini tidak bersahabat lagi dengan alam. Apanya? Korupsi yang tidak bersahabat dengan alam? Kaga nyambung. Mungkin orang yang korupsi itu udah rusak kelakuannya, tapi rusaknya mereka beda kali sama rusaknya kelakuan orang yang buang sampah sembarangan. Kok disama-samain. Soal urusan mall, kan Jokowi udah bilang kalau di masa pemerintahan beliau ini beliau nggak akan dengan mudah memberikan ijin membangun mall pada para pengusaha. Bahkan mall yang pengajuan ijinnya udah masuk dari masa pemerintahan sebelum pun bakal dikaji lagi sama beliau dan kalau memang nggak memenuhi kriteria beliau mungkin tidak akan diberikan ijinnya.

3. Soal korupsi, Jokowi punya cara yang lebih ampuh buat mengurangi pelaku tindak kriminal ini, yaitu dengan mengurangi keribetan birokrasi. Bahkan di berita dibilangin kalau ada oknum pemerintahan yang mempersulit warganya, beliau akan mencopot orang itu dari jabatannya. Kurang keren apa coba? Selain itu beliau juga waktu ditanya apa yang mau dilakukan kalau jadi gubernur, beliau punya jawaban yang tegas dan jelas yaitu mengurusi PKL dan tata kota Jakarta. Nggak kayak situ yang waktu ditanya apa yang mau dilakukan kalau jadi presiden "Sumpah Pocong". Bego. Ada juga dimana-mana sumpah di bawah Al-Quran, ini malah mau sumpah pocong.

Dia nyebut dirinya Calon Presiden Termuda yang paling tampan di Indonesia, tapi buat gue dia yang paling buruk sejauh ini. Wajar aja kalau misalnya Deddy Corbuzier minta tamunya milih Rhoma Irama atau Farhat Abbas di pertanyaan terakhir segmen Questions of Life dan hampir semua bintang tamu jawabnya milih Rhoma Irama. Habisnya, biarpun playboy dan kelihatan bodoh (waktu di Mata Najwa), seenggaknya dia nggak pernah ngeluarin kata-kata yang kasar atau bodoh. Dia tau dimana dan kapan, sama harus ngomong kayak gimana tanpa merusak citra diri dia atau apa.

Gue sih bukan penyuka atau pembenci Farhat Abbas, gue cuma nggak suka sama kelakuannya aja, Beda loh ya gasuka orangnya sama benci yang tidak sehat atau apalah itu semacamnya. Cuma mau komentar aja soal ini orang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar